YULIASAHADAH
Kamis, 18 Oktober 2018
Love Story
hubungan lama tuh ga menjamin pasangan lo bakal setia sama lo, walaupun lo ngerasa di prioritasin di cintain ngerasa paling cantik banget lah karena di sayangin tapi faktanya apa. dari sekian banyaknya prioritas yang dia kasih ke lo ada sedikit perhatian yang dia kasih ke cewe lain dan dari banyaknya waktu dia buat lo ada sedikit waktu buat dia ngasih kabar ke cewe lain. walaupun dia always banget ada kalo lo suruh kesana kemari nemenin lo, atau selalu ngeluangin waktu buat perhatiin lo. yang menurut lo ga akan ada buat cewe lain tuh ternyata ada. gue aja seganyangka itu, gue pacaran udah 3thn terus gue putus karena itu pun dia yang mutusin, tapi akhirnya dia yang ngajak balik lagi walaupun gue deket sama yang lain. dan akhirnya kita deket lagi tapi kita ga pacaran kita cuma komit aja karna kita emang mau serius. kita baik baik aja sampe kedeketan tanpa status ini mau berjalan setahun. saat kita lagi sering cari kerjaan kesana kemari gue kaget banget dia sering telponan chatan bahkan tukar perhatian sama cewe lain. sumpah sekaget itu gue, dulu awal pacaran sih dia emang segenit itu tapi gue pikir kalo emang mau serius tuh ga akan tebar pesona kesana kemari taunya masih dong. dia kaya gitu ya karna ada kesempatan, tapi kan kesempatan itu tercipta karna rasa percaya gue. eh dia malah menyalah gunakan. seganyangka itu gue, dan akhirnya gue memtuskan untuk ga hubungan lagi sama dia sama sekali, gue mikir ya ini belum terlalu serius aja dia udah gini gimana serius. dan saran aja buat yang berpasangan disana kalo emang lo niat serius jangan pernah lo kasih kepercayaan sepenuhnya buat pasangan lo. ada kalanya lo pantau, biar dia tau dimana posisi dia. semuak ini gue sama dia sampe bikin curhatan di blog gue. makasih yang notice dan maaf kalo ngerusak mata lo pada.
Jumat, 21 Februari 2014
MACAM-MACAM EVOLUSI
Berbagai macam teori evolusi yang
dicetuskan oleh berbagai tokoh, akan menjadi dasar pemikiran tentang evolusi
selanjutnya. Proses evolusi dapat dibedakan atas dasar faktor – faktor berikut
:
1.
Evolusi Berdasarkan Arahnya
Berdasarkan arahnya evolusi dibagi menjadi dua, yaitu :
a.
Evolusi Progresif
Evolusi
progresif adalah evolusi menuju pada kemungkinan yang dapat bertahan hidup
(survival). Contohnya seperti yang terjadi pada burung
finch (satu genus dengan burung pipit) di Kepulauan Galapagos yang dulu dipakai
Charles Darwin untuk mengembangkan teori evolusi, kini terbukti cocok dengan
teori itu, mereka memang berevolusi. Burung-burung finch yang berukuran sedang,
yang dulu diteliti Darwin, ternyata perlahan-lahan memperkecil paruhnya untuk
mendapatkan aneka jenis biji-bijian. Perubahan ini mulai terjadi sekitar
duapuluh tahun setelah kedatangan burung pesaing mereka yang berukuran lebih
besar, dan memperebutkan sumber makanan yang sama.
b.
Evolusi Regresif
Evolusi regresif adalah proses menuju pada kemungkinan
kepunahan. Hal ini seperti yang terjadi pada dinosaurus. Prof. Michael Rampino
dalam Discovery Channel berjudul “Catasthropic Past” menyebutkan
bahwa kepunahan Dinosaurus dipicu oleh serbuan dari luar angkasa (meteor).
Unsur iridium (hujan asam) yang merupakan unsur langka meteor pun banyak
ditemukan di daerah bekas kawah meteor, yaitu sekitar 10 ribu kali lebih banyak
dibandingkan kulit bumi yang lain. Menurutnya ini menjadi petunjuk hubungan
antara meteor dengan kepunahan binatang besar tersebut.
Begitu
juga dengan hasil penelitian dari pemenang nobel fisika, Luis Alvarez. Pada
tahun 1980, ia pernah memimpin ekspedisi bersama anaknya Walter dan menemukan
bahwa awan yang menutupi seluruh permukaan bumi telah menghalangi cahaya
matahari bertahun-tahun, yang menyebabkan long winter/musim dingin yang
lama dan ikut membinasakan banyak spesies yang ada.
2.
Evolusi Berdasarkan pada Skala Perubahannya
Berdasarkan skala perubahannya, evolusi dibagi menjadi dua,
yaitu :
a. Makroevolusi
Makroevolusi
adalah perubahan evolusi yang dapat mengakibatkan perubahan dalam skala besar. Perubahan yang
menyebabkan perbedaan yang lebih besar dan nyata diantara golongan taksonomi
diatas spesies. Hal
ini timbul dari serangkaian panjang kejadian spesies yang masing-masing membawa
spesies keturunan makin jauh dari bentuk leluhur asli. Makroevolusi adalah asal
usul kelompok-kelompok organisme baru, seperti mamalia atau tumbuhan berbunga,
melalui serangkaian peristiwa spesiasi. Spesiasi
adalah sebuah proses evolusi munculnya spesies baru. Spesiasi dapat diawali denga
perbedaan-perbedaan yang tampak kecil, misalnya warna pada punggung ikan
cichlid. Akan tetapi, ketika spesiasi terjadi
lagi dan lagi, perbedaan-peredaan semacam itu terakumulasi dan menjadi semakin menonjol. Akhirnya, terjadilah
pembentukan kelompok organisme baru yang sangat berbeda dari nenek moyang
mereka (seperti pada kemunculan paus dari mamalia penghuni darat). Lebih
lanjut, ketika satu kelompok organisme meningkat ukurannya dengan menghasilkan
banyak spesies baru, kelompok organisme lain mungkin menciut, karena spesies
anggotanya punah. Efek kumulatif dari banyak peristiwa spesiasi dan kepunahan
semacam itu telah membantu membentuk perubahan evolusioner besar yang
terdokuentasi dalam catatan fosil.
Contoh-contoh
yang spesifik dari perubahan makroevolusioner
mencakup asal mula proses-proses biokimiawi penting seperti fotosintesis,
kemunculan vertebrata darat pertama, dan dampak jangka panjang dari kepunahan
massal terhadap keanekaragaman kehidupan. Jika dipertimbangaknan sekaligus,
perubahan semacam itu menyajikan pandangan yang agung tentang sejarah kehidupan
di bumi.
Makroevolusi berfokus pada pembentukan kelompok taksonomik dari
tingkat spesies atas, walaupun banyak mekanisme yang sama yang
terlibat dalam spesiasi bekerja juga dalam makroevolusi,
rentang waktu yang diperlukan jauh lebih besar.
Setidaknya ada 3 aspek makroevolusi yang telah diidentidikasi:
1. Perubahan filetik
Perubahan bertahap pada satu garis keturunan sehingga pada akhirnya keturunannya sangat
berbeda dengan nenek moyangnya. Anagenisis dapat disamakan dengan seleksi terarah
dalam jangka waktu yang lama
2. Pembentukan struktur
Struktur yang baru dan berbeda secara radikal, misalnya mata vertebrata dan sayap burung
3. Radiasi adaptif
kelompok-kelompok yang besar semacam tumbuhan berbunga atau eukariota
4. Kepunahan massal
misalnya yang terjadi pada dinosaurus di masa kretisium
b. Mikroevolusi
Mikroevolusi adalah perubahan
evolusi yang dapat mengakibatkan perubahan dalam skala kecil. Mikroevolusi ini hanya mengarah kepada
terjadinya perubahan pada frekuensi gen atau kromosom. Ia juga disebut sebagai
"perubahan di bawah tingkat spesies”. Mikroevolusi sebagai perubahan
frekuensi alel dalam suatu populasi dari generasi ke generasi. Seleksi alam
bukanlah satu-satunya penyebab mikroevolusi. Sebenarnya ada tiga mekanisme
utama yang dapat menyebabkan perubahan frekuensi alel: seleksi alam, hanyutan genetik
(kejadian kebetulan yang mengubah frekuensi alel), dan aliran gen (transfer
alel di antara populasi-populasi). Setiap mekanisme tersebut memiliki efek yang
bereda pada komposisi genetik populasi. Akan tetapi hanya seleksi alam-lah yang
secara konsisten meningkatkan kecocokan antara organism dan lingkungannya.
Mikroevolusi dapat dikontraskan dengan makroevolusi, yang
merupakan peristiwa terjadinya perubahan skala besar pada frekuensi gen dalam
suatu populasi selama periode geologis yang panjang. Perbedaan ini pada
dasarnya hanya berbeda pada pendekatan yang dilakukan saja. Mikroevolusi
bersifat reduksionis, sedangkan makroevolusi bersifat holistik.
3. Evolusi
Berdasarkan Hasil Akhir
a. Evolusi
Divergen
Kebalikan dari evolusi konvergen
adalah evolusi divergen. Evolusi divergen adalah proses yang terkait garis
keturunan mengembangkan sifat-sifat biologis, genetik, dan perilaku yang
berbeda dari waktu ke waktu. Seleksi alam, seleksi seksual, pergeseran genetik,
aliran gen, dan mutasi adalah proses yang mendorong perubahan ini. Ketika cukup
perubahan kecil terakumulasi dalam populasi terisolasi erat terkait tetapi,
spesiasi mungkin terjadi.
Evolusi divergen juga merupakan proses evolusi yang perubahannya berasal dari
satu spesies menjadi banyak banyak spesies baru. Evolusi divergen ditemukan
pada peristiwa terdapatnya lima jari pada vetebrata yang berasal dari nenek
moyang yang sama dan sekarang dimiliki oleh bangsa primata dan manusia.
b. Evolusi
Konvergen
Evolusi konvergen adalah proses evolusi yang perubahannya
didasarkan pada adanya kesamaan struktur antara dua organ atau organisme pada
garis sama dari nenek moyang yang sama. Hal ini dapat ditemukan pada hiu dan
lumba – lumba. Ikan hiu dan lumba – lumba terlihat sama seperti organime yang
berkerabat dekat, tetapi hiu ternyata termasuk dalam pisces sedangkan ikan
lumba – lumba termasuk dalam mamalia. Ekspansi relatif cepat dan diversifikasi dari
kelompok organisme berkembang karena
mereka beradaptasi dengan relung ekologi baru. Radiasi adaptif adalah proses
dimana satu spesies berevolusi menjadi dua atau lebih spesies. Hal ini terjadi
sebagai akibat dari populasi yang berbeda menjadi reproduktif terisolasi satu
sama lain, biasanya dengan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Pola
percabangan evolusi akibat radiasi adaptif dikenal sebagai cladogenesis.
Dalam paleontologi, paleoantropologi, dan biologi, peneliti
mampu memetakan hubungan antara organisme yang berbeda berdasarkan pada karakteristik
bersama yang mereka warisi dari nenek moyang yang sama. Sebagai contoh, semua
mamalia bernapas dengan udara, memiliki bulu atau rambut, memiliki tiga tulang
telinga tengah, dan menyusui anak mereka. Karakteristik ini diwarisi dari nenek
moyang terakhir dari semua mamalia, yang dikenal dari fosil hidup sekitar 200
juta tahun yang lalu.
“Homologi”,
atau “homolog sifat”, adalah istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan
karakteristik yang berasal dari nenek moyang bersama. Tapi tidak semua kemiripan
yang diwariskan dari leluhur bersama. Ketika organisme yang tidak berhubungan
disajikan dengan tekanan lingkungan yang sama, seleksi alam mungkin akan
menghasilkan apa yang disebut “analogi”, atau “sifat analog”. Ini disebut
evolusi konvergen.
Burung dan Kelelawar Sayap sebagai
Contoh Evolusi Konvergen
Ambil burung dan sayap kelelawar misalnya. Tanpa banyak
pertimbangan itu mungkin tampak masuk akal untuk mengasumsikan bahwa karena
burung dan kelelawar keduanya memiliki sayap yang memungkinkan mereka untuk
terbang, mereka harus erat terkait dan telah mewarisi bahwa karakteristik dari
satu nenek moyang. Tetapi jika Anda melihat lebih dekat, Anda menemukan bahwa
sayap burung dan kelelawar sangat berbeda. Sayap kelelawar terdiri dari flap
kulit panjang yang membentang di atas jari-jari panjang. Sayap burung,
sebaliknya, terdiri dari bulu yang memperpanjang keluar sepanjang lengan dan
tulang jari mereka berkurang baik dalam ukuran dan jumlah dibandingkan dengan
kelelawar.
Burung
dan kelelawar sayap adalah hasil dari evolusi konvergen. Sekilas mereka
terlihat sama karena mereka berevolusi untuk melayani fungsi yang sama –
penerbangan. Penerbangan mungkin telah dipilih dalam dua garis keturunan yang
berbeda untuk alasan adaptif yang sama, yang memungkinkan organisme untuk
mengeksploitasi niche tinggi seperti tebing batu dan pepohonan, memungkinkan
melarikan diri dari predator, dan memungkinkan untuk perjalanan cepat jarak
yang lebih jauh.
Menariknya,
kesamaan dalam struktur tulang ekstremitas atas burung dan kelelawar – humerus,
radius, ulna, “pergelangan tangan”, dan “jari” tulang pada sayap – adalah
contoh homologi. Struktur dasar dari ekstremitas diwariskan dari nenek moyang
kuno. Perbedaan panjang antara tulang jari burung dan kelelawar adalah contoh
evolusi yang berbeda (lihat di bawah).
Contoh lain dari Evolusi Konvergen: Lemur dan Manusia
Evolusi konvergen juga dapat diamati antara manusia dan
primata. Karakteristik manusia Banyak – visi stereoskopik, moncong pendek, otak
besar, dan kuku jempol opposable jari – adalah homolog sifat dibagi dengan
primata yang lain.
Sebaliknya,
ekstremitas belakang-dominasi, yang merupakan sifat bersama antara lemur dan
manusia, adalah contoh dari evolusi konvergen. Pada sebagian besar primata,
anggota tubuh belakang lebih pendek atau panjang sama dengan kaki depan.
Di
lemur dan manusia, kaki belakang lebih panjang daripada kaki depan, tapi bukan
karena lemur dan manusia lebih terkait erat dengan satu sama lain daripada
mereka untuk primata lain.
Lemur
memiliki kaki panjang karena mereka vertikal-clingers dan leapers – dengan kata
lain, mereka menggunakan kaki belakang panjang dan kuat untuk melompat dari
pohon ke pohon. Manusia memiliki kaki belakang yang panjang untuk bergerak
bipedal – berjalan dengan dua kaki. Hind-ekstremitas dominasi adalah sifat analog
di lemur dan manusia.
Langganan:
Postingan (Atom)